Friday, February 17, 2017

[FANFICTION] Eomma (Mother) - Part 1


PLAY : DO KYUNGSOO – SCREAM
Or
PLAY : DO KYUNGSOO – CRYING OUT
Intinya liriknya sama, tapi mungkin keyakinan judul lagunya yang beda-beda :3
Lirik lengkap dan terjemahan indonesia ada di bagian akhir fanfiction ini.
********************
********************
–—–––––Eomma—––––––
++ChocoYeppeo Present++
♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫
Hari-hari melelahkan yang tampaknya terjadi selamanya
Aku merangkul hati lelahku yang begitu mengeluh
Selama aku bangun besok seperti yang kumiliki hari ini
Tentunya aku akan hidup di hari lain
♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫
<> Kyungsoo POV <>
Seperti biasanya, aku terbangun dari tidurku tanpa sebuah alarm atau pun cahaya mentari yang mampu menerobos ke dalam kamarku melalui celah ventilasi. Ralat, bukan kamar. Aku juga tidak tahu apa namanya. Akan tetapi, ruangan ini tidak pantas jika disebut dengan kata 'kamar'.Hanya menggunakan jam biologi aku bisa bangun tepat waktu. Namun, jika aku kelelahan mungkin aku akan bangun ketika ibuku membangunkanku. Ya, ini terjadi sejak dari 3 tahun yang lalu tepatnya tahun 2018.
Awalnya memang belum terbiasa, namun seiring berjalannya waktu dan juga keadaan sekitar yang mengharuskan hal ini aku lakukan, mau tidak mau aku memang harus seperti ini. Tinggal di rumah bawah tanah. Buatan ayahku ketika suasana antara negaraku dan negara tetangga mulai memanas. Karena perasaan ayahku akan ada suatu bahaya besar, dia pun membangun rumah ini.
Hanya sebuah ruangan yang berukuran 10 X 10 meter tempat untuk perlindungan kami. Rumah kami yang sebenarnya ––yang berada di permukaan tanah itu–– memang cukup besar dan luas. Tetapi apa dayaku dan keluargaku untuk menjaga rumah itu dari kehancuran. Kekuatan pasukan perang pasti lebih kuat dari pada keluargaku.
Semua bangunan di sana sini di permukaan bumi Korea Selatan tidak ada yang berdiri kokoh sempurna. Bahkan, sebagian besar dari semua itu telah merata dengan tanah.
Tidak sedikit pula nyawa-nyawa di negara ini yang telah melayang akibat perselisihan ini. Hanya berawal dari sebuah perebutan wilayah kecil di perbatasan, pada akhirnya aku juga tidak menyangka jika keadaan seperti ini akan terjadi kembali setelah berpuluh-puluh tahun dua negara ini hidup tenteram dan damai.
Banyak jasad-jasad bergelimpangan di atas tanah sana, sebagian juga telah luluh bercampur dengan tanah dan meninggalkan tulang belulang keras berwarna putih pekat. Tidak ada yang peduli dengan itu. Tidak ada yang hendak menguburnya dengan ketulusan hati. Asal bukan dirinya sendiri, maka itu bukanlah urusan mereka. Karena saat ini urusan para tentara militer dan juga pasukan-pasukannya yang masih bertahan itu adalah mempertahankan wilayah Korea Selatan dan memerdekakan wilayah tersebut untuk ke dua kalinya dari sebuah penjajahan.
Tidak hanya di daratan bumi korea selatan, begitu pula dengan keadaan bumi korea sebelah utara. Suasana gelap dan menyeramkan menyelimuti daerah itu. Korea Selatan dan Korea Utara, sekarang hanyalah tanah mengerikan bak neraka yang terletak di antara keindahan dunia.
Kedua negara yang awalnya satu. Kemudian terpecah dengan damai menjadi dua bagian. Beberapa tahun kemudian, kedua negara saling memberontak. Dan akhirnya mereka menyalahi sendiri semua perjanjian yang telah ditandatangani jauh-jauh hari sebelumnya.
Sudah berapa liter cairan merah yang tumpah dari awal hingga sekarang ini? Aku tak dapat membayangkan jika semuanya dikumpulkan menjadi satu kesatuan. Mungkin itu dapat dijadikan air pengisi kolam renang.
Bau anyir akibat cairan merah itu pun telah biasa membaui keadaan di luar sana. Namun, aku saja tidak setiap hari merasakannya karena terkadang ibuku melarangku untuk keluar dari ruangan sempit nan sesak ini. Katanya, itu demi keselamatanku.
"Kyungsoo-ya, jangan melamun." Sebuah suara yang telah lazim ku dengarkan sejak aku lahir telah membuyarkan angan-anganku. Hm, sebuah keinginan untuk membalaskan kematian ayahku ketika perang. Mungkin itu sebentar lagi. Dan itu adalah yang pertama kalinya aku ikut terjun ke dalam sana.
"Ah mwo? Apakah aku melamun? Ku rasa tidak. Aku hanya masih mengantuk eomma."ujarku dan refleks mengubah posisi dudukku yang tadinya bersandar di dinding sambil meluruskan kaki, sekarang menjadi duduk bersila dan melepas sandarannya. Aku pun menggosok-gosok mataku dengan tangan agar ibuku tidak memperpanjang pembahasan ini.
Setiap pagi, setelah aku bangun tidur, biasanya dia selalu menghampiriku seperti ini. Dia menuntunku ke meja makan. Ah, bukan meja makan, tetapi hanya tempat lesehan yang memang digunakan untuk makan. Menu makanan? Itu sangat sederhana. Bahkan itu terlalu buruk untuk gizi yeodongsaengku.
"Annyeong Oppa!" itulah kalimat pertama yang yeodongsaengku gunakan untuk menyapaku. Itu bermula sejak hidup kami sudah tidak aman lagi. Mungkin gadis muda ini benar-benar takut kehilanganku dan kehilangan ibunya sendiri.
Seusai saling memberikan sapaan selamat pagi, adik perempuanku ––Shinra–– dia langsung mengecup kedua sisi muka di bawah pelipis eomma dan mendapatkan balasan yang setimpal pula dari eomma. Kemudian, Shinra mengecup kedua sisi muka ku. Jika dia sedang usil, biasanya dia tiba-tiba saja mengecup bibir suciku ini secepat kilat. Hal itu sudah biasa mendapatkan tawaan mengejek dari ibu kami. Dan pada akhirnya, aku hanya akan menjitak(?) kepala adikku itu. tentu hanya bercanda, dan pasti tidak terlaku keras 'kan?
♪♫♪♫ Backsound : Suara gemuruh '-'♪♫♪♫
"Eomma..." lirih Shinra yang menghentikan aktivitas makannya dan berbalik memeluk eomma. Ya, pelukan takut dan pelukan tak ingin kehilangan. Aku hanya menatapnya sendu. Saat ini aku masih belum berani perbuat apa-apa.
"Tenanglah sayang. Itu 'kan hal yang biasa. Jangan takut. Kau sudah besar. Kita cukup berdo'a kepada Sang Pengatur agar hal ini segera terselesaikan." Begitulah untaian kalimat-kalimat pendek ibuku yang terdengar sangat pasrah dan tulus dengan hatinya.
Aku cukup tersentuh dengan suara itu. bukan suara gemuruh langkah-langkah para tentara perang di atas sana, tapi suara penuh hikmah dari eomma. Tidak biasanya eomma mengatakan hal semacam itu. Kata-katanya cukup terngiang dan hanyut di dalam otakku. Ah, sudahlah. Berhentilah berpikir mengada-ngada Kyungsoo!!!
"Eomma... tidak akan... pergi lagi 'kan?" tanya Shinra dengan amat pelan dan menenggelamkan wajahnya ke dalam lekukan leher ibu. Aku jelas mendengar pertanyaan Shinra itu. entah karena dorongan apa dan siapa, aku benar-benar ingin menggantikan posisi ibuku itu. aku ingin ibu tetap tinggal di rumah, dan aku yang akan pergi ke medan perang. Meskipun aku tidak bisa kembali lagi, itu bukanlah masalah. Aku hanya ingin melindungi keluargaku. Secara, sekarang ini aku bak seorang kepala keluarga yang memiliki tugas besar yaitu melindungu anggota keluarga lainnya.
"Shinra, habiskan makananmu sebelum dimakan oleh kakakmu. Kau tahu 'kan kalau dia rakus?" aku tak mendengar ucapan ibu untuk menjawab pertanyaan Shinra tadi. Aku hanya melihatnya melepaskan dekapan Shinra dan tersenyum hangan kepada Shinra juga kepadaku. Senyum yang terlihat penuh keterpaksaan.
Sudah ku usahakan untuk membuang pikiran apa pun yang mendekati arah negative. Namun kenapa itu begitu sulit???
"Yak, aku tidak rakus!" seruku tidak terima dengan perkataan ibu yang tadi, sambil terus mengunyah makananku yang masih mengumpul banyak di dalam mulut. Aku berpura-pura tidak mengerti akan raut wajah ibu yang terlihat berbeda dengan hari-hari sebelumnya itu. Aku memasang wajah bete kepada ibu dan yeodongsaengku seraya melahap makanan yang berikutnya.
Sungguh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, sebenarnya aku sudah lelah menjalani hari-hariku yang seperti ini. Tidak adakah kesempatan untuk mendapatkan hari cerah dan bahagia lagi di tempat ini? Tidak ada lagikah udara segar nan sejuk untuk paru-paruku ini? Tidak adakah kehidupan ramai bagaikan di kota-kota negara lain? Sekarang tempat ini adalah wilayah mati. Gelap. Mengerikan. Tidak patut untuk ditinggali. Itu adalah fakta Korea untuk detik ini. Dan mungkin untuk jam-jam berikutnya. Untuk hari-hari setelah ini. Untuk... selamanya?
Tidak inginkah mereka berdamai? Tidakkah mereka memperdulikan keluhan, kesedihan, dan kesengsaraan rakyat lemah sepertiku saat ini? AAAARRRRGGGGHHHH!!!! Aku sungguhan sudah muak dengan keadaan ini!
"Oppa! Ternyata kau rakus ya?! Jangan ambil makanan bagianku! Aku tidak terima!" bentak Shinra sambil merebut piring yang ada di hadapanku. Aku saja bingung. Itu 'kan piringku, sedangkan piring Shinra sendiri ada di hadapannya.
"Yak! Ini milikku!" lawanku tidak mau kalah.
"Yak! Kau sudah besar! Tidakkah kau mengalah pada anak kecil?!" balas yeodongsaengku itu yang masih saja menggenggam erat piringku.
"Kembalikan!" aku merebut piringku paksa dari tangan adik perempuanku yang tak kunjung menyerah mempertahankan piringku itu.
"Ckckck. Kalian ini. Belajarlah untuk menjadi saudara yang baik." Ibu berkacak pinggang melihat tingkahku bersama yeodongsaengku. Sedetik setelah itu, ibu lekas berjalan ke salah satu bilik kecil di ruangan ini. Aku dan yeodongsaengku hanya terduduk melongo melihat ke arah ibu.
"Oppa, aku ingin sekolah lagi. Aku merindukan semua sahabatku. Aku ingin bercanda tawa lagi dengan teman-temanku. Sekarang mereka ke mana pun aku sudah tidak tahu. Kapan aku bisa sekolah lagi? Apakah aku akan naik kelas jika sudah bertahun-tahun tidak bersekolah? Oppa... aku ingin sekolah," tiba-tiba Shinra melingkarkan tangannya di pinggangku. Kepalanya juga dia sandarkan di bahu kiriku. Aku terlonjak dengan sikapnya kala itu. juga sedikit tidak percaya dengan kalimat-kalimat mustahil ––untuk saat ini–– yang baru terlepas dari mulitnya begitu saja.
"Semoga secercah cahaya akan segera datang... Secepatnya..." ucapku pada Shinra sembari mengelus lembut rambut belakangnya. Sedangkan tanganku yang satunya mendekap tubuhnya dengan erat. Ku coba menahan air mataku. Aku cukup merasakannya. Cukup merasakan kesedihan Shinra yang kehilangan pendidikannya karena semua ini. Begitu pun dengan diriku. Aku harus rela memutuskan kuliahku sebelum waktunya. Karena apa lagi, pasti karena perselisihan ini. Tidak sedikit sarana pendidikan yang musnah.
"Oppa..." lirih Shinra dengan mengarahkan matanya kepadaku. Ku tatap dalam-dalam matanya. Ku lihat, Shinra tidak mengerti dengan kata-kataku tadi.
"Hmmm?" balasku dengan menaikkan alisku.
"Secercah cahaya apa maksudmu, Oppa?" tanya Shinra dengan wajah yang benar-benar berhasil mengenai hatiku yang paling dalam. Wajah lugu? Polos? Benar-benar tidak mengerti?
"Oh, tidak. Tidak. Lupakan saja." Aku berusaha menghapus ingatannya pada perkataanku tadi.
Aku tenggelamkan wajah yeodongsaengku ke dalam lekukan leherku lagi. Aku hanya ingin dia merasa nyaman. Merasa tenang dan melupakan apa yang ada di dunia nyatanya sekarang ini. Tapi, ku rasa itu teramat sulit bagi seorang gadis yang masih belum genap berusia remaja sewajarnya itu. Pikirannya masih kekanakan terkadang. Akan tetapi, jika hati gadis muda itu terlanda suatu permasalahan yang mendalam, itu akan benar-benar lebih rumit dari pada masalah orang dewasa sekarang.
–—–––––Eomma—––––––
++ChocoYeppeo Present++
♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫
Harapan ambigu dan tawa kosong
Secara bertahap berubah sebagai hari-hari yang pergi, namun tidak peduli berapa banyak waktu berlalu
Bernanah luka dalam hati ini
Menolak untuk menghilang
♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫
Hari ini, pagi ini, entahlah ini hitungan hari yang ke berapa. 1000 haru mungkin? Kurang ata lebih? Yang terpenting adalah, hari ini masih sama seperti hari-hari yang sebelumnya. Hari yang terkesan menyeramkan, mengerikan, dan tidak pantas ada! Bahkan sepertinya hari ini lebih buruk dari hari-hariku yang sebelumnya.
CKLEK.....
Yap. Seseorang telah berhasil merampas seluruh tawaan yang baru saja kami hasilkan. Tawaanku, tawa ibuku, tawa yeodongsaengku. Semuanya pudar begitu saja. Bisa dipastikan, 1... 2... 3... Kami harus bersiap-siap menjaga diri kami dari mereka. Ini sudah biasa terjadi, meskipun bukan untuk setiap hari.
Kami bersama-sama bangkit, melihat siapa tamu kami. Dan itu sudah tertebak. Aku melihat wajah ibuku yang begitu gusar. Sedangkan yeodongsaengku berlarian menuju tempat mana pun yang dia kira aman. Kali ini, aku benar-benar tidak tahu harus ke mana lagi.
"KYUNGSOO!!! PERGI DARI SINI!!!"
Suara pekikan itu dengan jelas telah berhasil melewati kedua gendang telingaku dan tercerna dengan baik di dalam tubuhku. Aku tahu apa yang diinginkan oleh jeritan seorang wanita itu. Ya, yang diinginkan seorang ibu pastinya adalah keselamatan makhluk yang sempat dikandungnya untuk beberapa bulan.
Jujur, aku sebenarnya tidak ingin membuat orang yang semestinya aku lindungi malah berbalik melindungiku. Ku pikir, cukup untuk hari yang lalu saja. Tidak untuk detik ini! Aku lupa betapa besar pengorbanannya demi keturunannya, aku lupa betapa relanya dia melukai tubuhnya sendiri demi orang yang disayanginya, aku lupa sudah berapa kali aku mengabaikan permintaannya ketika aku merasa cukup ––mendapatkan apa yang aku inginkan––
"PERGI!!!" rintihan itu. Rintihan suci dari sang malaikat. Aku ingin membantu. Aku ingin menyelamatkan. Akan tetapi, aku sungguh tidakk pantas disebut-sebut dengan sebutan 'malaikat'.
Guratan-guratan kecil namun membuatku begitu menyesalinya, tiba-tiba saja terlintas di dalam ingatanku. Sesaat. Aku memejamkan mataku keras. Berharap hal-hal itu segera pergi dari pikiranku sekarang. Itu terus terngiang, terngiang, dan terngiang. Ibu, maafkan aku. Aku tidak pantas disebut sebagai anakmu.
Aku sempat mengingat kembali sesuatu yang bodoh yang pernah ku lakukan kepada ibuku. Waktu aku kecil, waktu aku tumbuh remaja, waktu aku mulai menjadi dewasa.
(:) "Kyungsoo, apakah kau menyukai sepatu bola ini? Ini ibu belikan khusus untuk hari ulang tahunmu, sayang,". Ucapan lembut itu dilanjutkan dengan kecupan satu kali di keningku. "Ani!!! Aku tidak suka! Ini jelek sekali! Apa inbu tidak tahu apa yang ku inginkan sekarang?!" omel diriku yang masih kanak-kanak. Setelah itu, aku berlari ke halaman dan mebuang sepatu bola itu.
(:) "Ibu, cucikan seragam sekolahku!" ucapku yang masih SD sembarangan sambil melempar satu stel seragam sekolah tepat ke wajah ibuku. "Kyungsoo, kau harus belajar untuk menc—" ya, jawaban itu segera aku potong dengan ucapan "JANGAN MENASEHATIKU IBU!". Oh, ku rasa bukan ucapan, tetapi itu pantas dikatakan teriakan.
(:) aku yang sepertinya berumur 14 tahun, saat itu sedang bermain bola. Saking asyiknya, ternyata bola itu mengenai ibuku. "Yah, ibu. Kau ini mengganggu saja!" keluhku sambil memungut bolaku yang tadi mengenai ibu. "Kau yang seharusnya hati-hati, Kyungsoo." Ucap wanita itu tanpa rasa marah setitik pun. Namun, bodohnya aku. Kenapa aku malah mengacuhkannya?
Eoh... Ribuan tuntutan sekarang sedang berdemo di kepalaku. Kepalaku benar-benar berat. Akan tetapi, ini belum ada apa-apanya.
"Argh!" pekik wanita yang sedang fokus dengan seorang musuh itu. aku refleks menghapus semua pikiran-pikiranku sebelumnya. Aku khawatir. Ya, kali ini aku khawatir. Aku rasa, hari telah berlalu sangat panjang. Apakah aku terlambat jika menyesalinya sekarang?
"IBU!!!" teriakku seraya menghampiri orang yang sempat ku panggil itu. oh tidak, dia nampak terkulai lemas. Aku tidak berani! Ah tidak! Aku harus berani melawan semua rasa ketidakberanianku itu!
"Kau tidak kenapa-napa?" tanyaku khawatir dilanjutkan dengan memangku kepala ibu di pahaku. Oh! Darah?! Apakah perutnya akan sakit parah?! Aku takut ibu. Jangan.....
"Pergi, aku tidak apa-apa. Aku... aku akan tetap melindungimu. Pergilah, jangan kemari..." terlihat secuil senyuman dalam ucapan ibu itu. menahan rasa perih. Namun masih bersemangat. Dia, dia mengusap sejenak pipiku dengan tatapannya yang agaknya sudah mulai belabur itu.
"Hahaha! Kau kemari bocah?! Kau cari mati ya? Kau sudah bosan hidup?" tawaan lelaki yang terlihat sangat perkasa itu menggelegar di setiap sudut ruang bawah tanah ini. Aku menatapnya dengan mengumpulkan seluruh keberanianku.
"Jangan... Jangan dia. Aku saja," ucapan itu dilontarkan lemah oleh ibu. Aku takut.
"Sepertinya anakmu ingin mati!" pekik orang yang tak pernah aku kenali itu.
Kenapa selalu seperti ini? Aku tahu, orang-orang yang sempat melukai ibu ––bukan hanya kali ini saja, tetapi saat-saat yang telah lalu dahulu–– itu hanyalah ingin melukai, bukannya mebunuh. Pasti yang ada di pikiran mereka adalah menyiksa sampai benar-benar tidak mampu melakukan apa-apa lagi. Setelah tidak bisa berbuat apa-apa, dengan perlahan pasti akan mati dengan sendirinya.
Aku benci orang itu! mereka, orang yang tak berperikemanusiaan itu datang sesuka hati mereka. Menyiksa siapa pun sesuka hati mereka. Tidak tahu apa yang dirasakan sebenarnya oleh si korban. Aku ingin hal itu segera hilang! Akan tetapi, mereka hanya akan pergi ketika mereka sudah puas. Bukannya karena jeritan si korban yang tidak ada gunanya itu ––menurut mereka––. Mereka selalu menolak untuk pergi. Kecuali ketika mereka telah merasa kemenangan ada di pihak mereka. Tidakkah kalian mendengar jeritan orang yang tak bersalah????????!!!!!!!!!!
NEXT?????
Huaaaaa..... yaampun. Author lagi melawan artblock dan writeblock >.< bener" lagi kgk ada ide buat ngebuat cover maupun FFnya >.<

♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪
D.O – SCREAM (OST. CART)
=>ROMANIZATION<=
Godanhan haruga gilgo gireotdeon nal
Hansum gadeuk jichin mameul dajaba
Oneuldo naeildo tto dasi ireona
Harul sara gagetjyo
Magyeonhan gidaedo memareun useumdo
Chacheum byeonhae sigani jinagado
Seoreoun maeumeun dodanan sangcheoneun
Sarajiji anhayo
Seogeulpeun uri oechimi deullinayo
Haneobsi chamgo tto gyeondyeotjyo
Meon gireul geotda eodumi chajawado
Du soneul japgoseo neul hamkkeyeonneunde
Bulkkeojin changmun teum sai hanjulgi bit
Eonjenganeun hwanhi bichwojugireul
Barago baramyeon kkok irwojilgeora
Mitgo gidaryeonneunde
Seogeulpeun uri oechimi deullinayo
Haneobsi chamgo tto gyeondyeotjyo
Meon gireul geotda eodumi chajawado
Du soneul japgoseo neul hamkkeyeonneunde
Wae amureon daedabi eomnayo
Wae amureon mal eobsi sumgyeowannayo
Godanhan haruga gilgo gireotdeon nal
Hansum gadeuk jichin mameul dajaba
Oneuldo naeildo tto dasi ireona
Harul sara gagetjyo
#NOTE Biasanya paragraf ke 4 & 5 dihilangkan.
=>INDONESIAN TRANSLATE<=
Hari-hari melelahkan yang tampaknya terjadi selamanya
Aku merangkul hati lelahku yang begitu mengeluh
Selama aku bangun besok seperti yang kumiliki hari ini
Tentunya aku akan hidup di hari lain
Harapan ambigu dan tawa kosong
Secara bertahap berubah sebagai hari-hari yang pergi, namun tidak peduli berapa banyak waktu berlalu
Bernanah luka dalam hati ini
Menolak untuk menghilang
Dapatkah teriakan putus asa kita didengar?
Kami terus menahan mereka melalui semua yang telah kami alami
Bahkan ketika kegelapan menemukan kami di jalan tak berujung
Kami selalu di sisi masing-masing, berjalan bergandengan tangan
Aku berharap setidaknya ada sorotan cahaya
Bersinar melalui celah di jendela
Dan aku menunggu, percaya kemungkinan bahwa
Jika permintaan telah dibuat, itu pasti akan menjadi kenyataan
Dapat teriakan putus asa kita didengar?
Kami terus menahan mereka melalui semua yang telah kami alami
Bahkan ketika kegelapan menemukan kami di jalan tak berujung
Kami selalu di sisi masing-masing, berjalan bergandengan tangan
Mengapa tidak ada jawaban?
Mengapa kita diam-diam bersembunyi begitu lama
Hari-hari melelahkan yang tampaknya terjadi selamanya
Aku merangkul hati lelahku yang begitu mengeluh
Selama aku bangun besok seperti yang kumiliki hari ini

Tentunya aku akan hidup di hari lain

No comments:

Post a Comment