Or
PLAY : DO KYUNGSOO –
CRYING OUT
Intinya liriknya sama,
tapi mungkin keyakinan judul lagunya yang beda-beda :3
Lirik lengkap dan
terjemahan indonesia ada di bagian akhir fanfiction ini.
********************
********************
–—–––––Eomma—––––––
++ChocoYeppeo Present++
♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫
Hari-hari
melelahkan yang tampaknya terjadi selamanya
Aku
merangkul hati lelahku yang begitu mengeluh
Selama
aku bangun besok seperti yang kumiliki hari ini
Tentunya
aku akan hidup di hari lain
♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫
<> Kyungsoo POV
<>
Seperti biasanya, aku
terbangun dari tidurku tanpa sebuah alarm atau pun cahaya mentari yang mampu
menerobos ke dalam kamarku melalui celah ventilasi. Ralat, bukan kamar. Aku
juga tidak tahu apa namanya. Akan tetapi, ruangan ini tidak pantas jika disebut
dengan kata 'kamar'.Hanya menggunakan jam biologi aku bisa bangun tepat waktu.
Namun, jika aku kelelahan mungkin aku akan bangun ketika ibuku membangunkanku.
Ya, ini terjadi sejak dari 3 tahun yang lalu tepatnya tahun 2018.
Awalnya memang belum
terbiasa, namun seiring berjalannya waktu dan juga keadaan sekitar yang
mengharuskan hal ini aku lakukan, mau tidak mau aku memang harus seperti ini.
Tinggal di rumah bawah tanah. Buatan ayahku ketika suasana antara negaraku dan
negara tetangga mulai memanas. Karena perasaan ayahku akan ada suatu bahaya
besar, dia pun membangun rumah ini.
Hanya sebuah ruangan yang
berukuran 10 X 10 meter tempat untuk perlindungan kami. Rumah kami yang
sebenarnya ––yang berada di permukaan tanah itu–– memang cukup besar dan luas.
Tetapi apa dayaku dan keluargaku untuk menjaga rumah itu dari kehancuran.
Kekuatan pasukan perang pasti lebih kuat dari pada keluargaku.
Semua bangunan di sana
sini di permukaan bumi Korea Selatan tidak ada yang berdiri kokoh sempurna.
Bahkan, sebagian besar dari semua itu telah merata dengan tanah.
Tidak sedikit pula
nyawa-nyawa di negara ini yang telah melayang akibat perselisihan ini. Hanya
berawal dari sebuah perebutan wilayah kecil di perbatasan, pada akhirnya aku
juga tidak menyangka jika keadaan seperti ini akan terjadi kembali setelah
berpuluh-puluh tahun dua negara ini hidup tenteram dan damai.
Banyak jasad-jasad
bergelimpangan di atas tanah sana, sebagian juga telah luluh bercampur dengan
tanah dan meninggalkan tulang belulang keras berwarna putih pekat. Tidak ada
yang peduli dengan itu. Tidak ada yang hendak menguburnya dengan ketulusan
hati. Asal bukan dirinya sendiri, maka itu bukanlah urusan mereka. Karena saat
ini urusan para tentara militer dan juga pasukan-pasukannya yang masih bertahan
itu adalah mempertahankan wilayah Korea Selatan dan memerdekakan wilayah
tersebut untuk ke dua kalinya dari sebuah penjajahan.
Tidak hanya di daratan
bumi korea selatan, begitu pula dengan keadaan bumi korea sebelah utara.
Suasana gelap dan menyeramkan menyelimuti daerah itu. Korea Selatan dan Korea
Utara, sekarang hanyalah tanah mengerikan bak neraka yang terletak di antara
keindahan dunia.
Kedua negara yang awalnya
satu. Kemudian terpecah dengan damai menjadi dua bagian. Beberapa tahun
kemudian, kedua negara saling memberontak. Dan akhirnya mereka menyalahi
sendiri semua perjanjian yang telah ditandatangani jauh-jauh hari sebelumnya.
Sudah berapa liter cairan
merah yang tumpah dari awal hingga sekarang ini? Aku tak dapat membayangkan
jika semuanya dikumpulkan menjadi satu kesatuan. Mungkin itu dapat dijadikan
air pengisi kolam renang.
Bau anyir akibat cairan
merah itu pun telah biasa membaui keadaan di luar sana. Namun, aku saja tidak
setiap hari merasakannya karena terkadang ibuku melarangku untuk keluar dari
ruangan sempit nan sesak ini. Katanya, itu demi keselamatanku.
"Kyungsoo-ya, jangan
melamun." Sebuah suara yang telah lazim ku dengarkan sejak aku lahir telah
membuyarkan angan-anganku. Hm, sebuah keinginan untuk membalaskan kematian
ayahku ketika perang. Mungkin itu sebentar lagi. Dan itu adalah yang pertama
kalinya aku ikut terjun ke dalam sana.
"Ah mwo? Apakah aku
melamun? Ku rasa tidak. Aku hanya masih mengantuk eomma."ujarku dan
refleks mengubah posisi dudukku yang tadinya bersandar di dinding sambil
meluruskan kaki, sekarang menjadi duduk bersila dan melepas sandarannya. Aku
pun menggosok-gosok mataku dengan tangan agar ibuku tidak memperpanjang
pembahasan ini.
Setiap pagi, setelah aku
bangun tidur, biasanya dia selalu menghampiriku seperti ini. Dia menuntunku ke
meja makan. Ah, bukan meja makan, tetapi hanya tempat lesehan yang memang
digunakan untuk makan. Menu makanan? Itu sangat sederhana. Bahkan itu terlalu
buruk untuk gizi yeodongsaengku.
"Annyeong Oppa!"
itulah kalimat pertama yang yeodongsaengku gunakan untuk menyapaku. Itu bermula
sejak hidup kami sudah tidak aman lagi. Mungkin gadis muda ini benar-benar
takut kehilanganku dan kehilangan ibunya sendiri.
Seusai saling memberikan
sapaan selamat pagi, adik perempuanku ––Shinra–– dia langsung mengecup kedua
sisi muka di bawah pelipis eomma dan mendapatkan balasan yang setimpal pula
dari eomma. Kemudian, Shinra mengecup kedua sisi muka ku. Jika dia sedang usil,
biasanya dia tiba-tiba saja mengecup bibir suciku ini secepat kilat. Hal itu
sudah biasa mendapatkan tawaan mengejek dari ibu kami. Dan pada akhirnya, aku
hanya akan menjitak(?) kepala adikku itu. tentu hanya bercanda, dan pasti tidak
terlaku keras 'kan?
♪♫♪♫ Backsound : Suara
gemuruh '-'♪♫♪♫
"Eomma..." lirih
Shinra yang menghentikan aktivitas makannya dan berbalik memeluk eomma. Ya,
pelukan takut dan pelukan tak ingin kehilangan. Aku hanya menatapnya sendu.
Saat ini aku masih belum berani perbuat apa-apa.
"Tenanglah sayang.
Itu 'kan hal yang biasa. Jangan takut. Kau sudah besar. Kita cukup berdo'a
kepada Sang Pengatur agar hal ini segera terselesaikan." Begitulah untaian
kalimat-kalimat pendek ibuku yang terdengar sangat pasrah dan tulus dengan
hatinya.
Aku cukup tersentuh dengan
suara itu. bukan suara gemuruh langkah-langkah para tentara perang di atas
sana, tapi suara penuh hikmah dari eomma. Tidak biasanya eomma mengatakan hal
semacam itu. Kata-katanya cukup terngiang dan hanyut di dalam otakku. Ah,
sudahlah. Berhentilah berpikir mengada-ngada Kyungsoo!!!
"Eomma... tidak
akan... pergi lagi 'kan?" tanya Shinra dengan amat pelan dan
menenggelamkan wajahnya ke dalam lekukan leher ibu. Aku jelas mendengar
pertanyaan Shinra itu. entah karena dorongan apa dan siapa, aku benar-benar
ingin menggantikan posisi ibuku itu. aku ingin ibu tetap tinggal di rumah, dan
aku yang akan pergi ke medan perang. Meskipun aku tidak bisa kembali lagi, itu
bukanlah masalah. Aku hanya ingin melindungi keluargaku. Secara, sekarang ini
aku bak seorang kepala keluarga yang memiliki tugas besar yaitu melindungu
anggota keluarga lainnya.
"Shinra, habiskan
makananmu sebelum dimakan oleh kakakmu. Kau tahu 'kan kalau dia rakus?"
aku tak mendengar ucapan ibu untuk menjawab pertanyaan Shinra tadi. Aku hanya
melihatnya melepaskan dekapan Shinra dan tersenyum hangan kepada Shinra juga
kepadaku. Senyum yang terlihat penuh keterpaksaan.
Sudah ku usahakan untuk
membuang pikiran apa pun yang mendekati arah negative. Namun kenapa itu begitu
sulit???
"Yak, aku tidak
rakus!" seruku tidak terima dengan perkataan ibu yang tadi, sambil terus
mengunyah makananku yang masih mengumpul banyak di dalam mulut. Aku
berpura-pura tidak mengerti akan raut wajah ibu yang terlihat berbeda dengan
hari-hari sebelumnya itu. Aku memasang wajah bete kepada ibu dan yeodongsaengku
seraya melahap makanan yang berikutnya.
Sungguh di dalam lubuk
hatiku yang paling dalam, sebenarnya aku sudah lelah menjalani hari-hariku yang
seperti ini. Tidak adakah kesempatan untuk mendapatkan hari cerah dan bahagia
lagi di tempat ini? Tidak ada lagikah udara segar nan sejuk untuk paru-paruku
ini? Tidak adakah kehidupan ramai bagaikan di kota-kota negara lain? Sekarang
tempat ini adalah wilayah mati. Gelap. Mengerikan. Tidak patut untuk
ditinggali. Itu adalah fakta Korea untuk detik ini. Dan mungkin untuk jam-jam
berikutnya. Untuk hari-hari setelah ini. Untuk... selamanya?
Tidak inginkah mereka
berdamai? Tidakkah mereka memperdulikan keluhan, kesedihan, dan kesengsaraan
rakyat lemah sepertiku saat ini? AAAARRRRGGGGHHHH!!!! Aku sungguhan sudah muak
dengan keadaan ini!
"Oppa! Ternyata kau
rakus ya?! Jangan ambil makanan bagianku! Aku tidak terima!" bentak Shinra
sambil merebut piring yang ada di hadapanku. Aku saja bingung. Itu 'kan
piringku, sedangkan piring Shinra sendiri ada di hadapannya.
"Yak! Ini
milikku!" lawanku tidak mau kalah.
"Yak! Kau sudah
besar! Tidakkah kau mengalah pada anak kecil?!" balas yeodongsaengku itu
yang masih saja menggenggam erat piringku.
"Kembalikan!"
aku merebut piringku paksa dari tangan adik perempuanku yang tak kunjung
menyerah mempertahankan piringku itu.
"Ckckck. Kalian ini.
Belajarlah untuk menjadi saudara yang baik." Ibu berkacak pinggang melihat
tingkahku bersama yeodongsaengku. Sedetik setelah itu, ibu lekas berjalan ke
salah satu bilik kecil di ruangan ini. Aku dan yeodongsaengku hanya terduduk
melongo melihat ke arah ibu.
"Oppa, aku ingin
sekolah lagi. Aku merindukan semua sahabatku. Aku ingin bercanda tawa lagi
dengan teman-temanku. Sekarang mereka ke mana pun aku sudah tidak tahu. Kapan
aku bisa sekolah lagi? Apakah aku akan naik kelas jika sudah bertahun-tahun
tidak bersekolah? Oppa... aku ingin sekolah," tiba-tiba Shinra
melingkarkan tangannya di pinggangku. Kepalanya juga dia sandarkan di bahu
kiriku. Aku terlonjak dengan sikapnya kala itu. juga sedikit tidak percaya
dengan kalimat-kalimat mustahil ––untuk saat ini–– yang baru terlepas dari
mulitnya begitu saja.
"Semoga secercah
cahaya akan segera datang... Secepatnya..." ucapku pada Shinra sembari
mengelus lembut rambut belakangnya. Sedangkan tanganku yang satunya mendekap
tubuhnya dengan erat. Ku coba menahan air mataku. Aku cukup merasakannya. Cukup
merasakan kesedihan Shinra yang kehilangan pendidikannya karena semua ini.
Begitu pun dengan diriku. Aku harus rela memutuskan kuliahku sebelum waktunya.
Karena apa lagi, pasti karena perselisihan ini. Tidak sedikit sarana pendidikan
yang musnah.
"Oppa..." lirih
Shinra dengan mengarahkan matanya kepadaku. Ku tatap dalam-dalam matanya. Ku
lihat, Shinra tidak mengerti dengan kata-kataku tadi.
"Hmmm?" balasku
dengan menaikkan alisku.
"Secercah cahaya apa
maksudmu, Oppa?" tanya Shinra dengan wajah yang benar-benar berhasil
mengenai hatiku yang paling dalam. Wajah lugu? Polos? Benar-benar tidak
mengerti?
"Oh, tidak. Tidak.
Lupakan saja." Aku berusaha menghapus ingatannya pada perkataanku tadi.
Aku tenggelamkan wajah
yeodongsaengku ke dalam lekukan leherku lagi. Aku hanya ingin dia merasa
nyaman. Merasa tenang dan melupakan apa yang ada di dunia nyatanya sekarang
ini. Tapi, ku rasa itu teramat sulit bagi seorang gadis yang masih belum genap
berusia remaja sewajarnya itu. Pikirannya masih kekanakan terkadang. Akan
tetapi, jika hati gadis muda itu terlanda suatu permasalahan yang mendalam, itu
akan benar-benar lebih rumit dari pada masalah orang dewasa sekarang.
–—–––––Eomma—––––––
++ChocoYeppeo Present++
♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫
Harapan
ambigu dan tawa kosong
Secara
bertahap berubah sebagai hari-hari yang pergi, namun tidak peduli berapa banyak
waktu berlalu
Bernanah
luka dalam hati ini
Menolak
untuk menghilang
♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫
Hari ini, pagi ini,
entahlah ini hitungan hari yang ke berapa. 1000 haru mungkin? Kurang ata lebih?
Yang terpenting adalah, hari ini masih sama seperti hari-hari yang sebelumnya.
Hari yang terkesan menyeramkan, mengerikan, dan tidak pantas ada! Bahkan
sepertinya hari ini lebih buruk dari hari-hariku yang sebelumnya.
CKLEK.....
Yap. Seseorang telah
berhasil merampas seluruh tawaan yang baru saja kami hasilkan. Tawaanku, tawa
ibuku, tawa yeodongsaengku. Semuanya pudar begitu saja. Bisa dipastikan, 1...
2... 3... Kami harus bersiap-siap menjaga diri kami dari mereka. Ini sudah
biasa terjadi, meskipun bukan untuk setiap hari.
Kami bersama-sama bangkit,
melihat siapa tamu kami. Dan itu sudah tertebak. Aku melihat wajah ibuku yang begitu
gusar. Sedangkan yeodongsaengku berlarian menuju tempat mana pun yang dia kira
aman. Kali ini, aku benar-benar tidak tahu harus ke mana lagi.
"KYUNGSOO!!! PERGI
DARI SINI!!!"
Suara pekikan itu dengan
jelas telah berhasil melewati kedua gendang telingaku dan tercerna dengan baik
di dalam tubuhku. Aku tahu apa yang diinginkan oleh jeritan seorang wanita itu.
Ya, yang diinginkan seorang ibu pastinya adalah keselamatan makhluk yang sempat
dikandungnya untuk beberapa bulan.
Jujur, aku sebenarnya
tidak ingin membuat orang yang semestinya aku lindungi malah berbalik
melindungiku. Ku pikir, cukup untuk hari yang lalu saja. Tidak untuk detik ini!
Aku lupa betapa besar pengorbanannya demi keturunannya, aku lupa betapa relanya
dia melukai tubuhnya sendiri demi orang yang disayanginya, aku lupa sudah
berapa kali aku mengabaikan permintaannya ketika aku merasa cukup ––mendapatkan
apa yang aku inginkan––
"PERGI!!!"
rintihan itu. Rintihan suci dari sang malaikat. Aku ingin membantu. Aku ingin
menyelamatkan. Akan tetapi, aku sungguh tidakk pantas disebut-sebut dengan
sebutan 'malaikat'.
Guratan-guratan kecil
namun membuatku begitu menyesalinya, tiba-tiba saja terlintas di dalam
ingatanku. Sesaat. Aku memejamkan mataku keras. Berharap hal-hal itu segera
pergi dari pikiranku sekarang. Itu terus terngiang, terngiang, dan terngiang.
Ibu, maafkan aku. Aku tidak pantas disebut sebagai anakmu.
Aku sempat mengingat
kembali sesuatu yang bodoh yang pernah ku lakukan kepada ibuku. Waktu aku
kecil, waktu aku tumbuh remaja, waktu aku mulai menjadi dewasa.
(:) "Kyungsoo, apakah
kau menyukai sepatu bola ini? Ini ibu belikan khusus untuk hari ulang tahunmu,
sayang,". Ucapan lembut itu dilanjutkan dengan kecupan satu kali di
keningku. "Ani!!! Aku tidak suka! Ini jelek sekali! Apa inbu tidak tahu
apa yang ku inginkan sekarang?!" omel diriku yang masih kanak-kanak.
Setelah itu, aku berlari ke halaman dan mebuang sepatu bola itu.
(:) "Ibu, cucikan
seragam sekolahku!" ucapku yang masih SD sembarangan sambil melempar satu
stel seragam sekolah tepat ke wajah ibuku. "Kyungsoo, kau harus belajar
untuk menc—" ya, jawaban itu segera aku potong dengan ucapan "JANGAN
MENASEHATIKU IBU!". Oh, ku rasa bukan ucapan, tetapi itu pantas dikatakan
teriakan.
(:) aku yang sepertinya
berumur 14 tahun, saat itu sedang bermain bola. Saking asyiknya, ternyata bola
itu mengenai ibuku. "Yah, ibu. Kau ini mengganggu saja!" keluhku
sambil memungut bolaku yang tadi mengenai ibu. "Kau yang seharusnya
hati-hati, Kyungsoo." Ucap wanita itu tanpa rasa marah setitik pun. Namun,
bodohnya aku. Kenapa aku malah mengacuhkannya?
Eoh... Ribuan tuntutan
sekarang sedang berdemo di kepalaku. Kepalaku benar-benar berat. Akan tetapi,
ini belum ada apa-apanya.
"Argh!" pekik
wanita yang sedang fokus dengan seorang musuh itu. aku refleks menghapus semua
pikiran-pikiranku sebelumnya. Aku khawatir. Ya, kali ini aku khawatir. Aku
rasa, hari telah berlalu sangat panjang. Apakah aku terlambat jika menyesalinya
sekarang?
"IBU!!!"
teriakku seraya menghampiri orang yang sempat ku panggil itu. oh tidak, dia
nampak terkulai lemas. Aku tidak berani! Ah tidak! Aku harus berani melawan
semua rasa ketidakberanianku itu!
"Kau tidak
kenapa-napa?" tanyaku khawatir dilanjutkan dengan memangku kepala ibu di
pahaku. Oh! Darah?! Apakah perutnya akan sakit parah?! Aku takut ibu.
Jangan.....
"Pergi, aku tidak
apa-apa. Aku... aku akan tetap melindungimu. Pergilah, jangan kemari..."
terlihat secuil senyuman dalam ucapan ibu itu. menahan rasa perih. Namun masih
bersemangat. Dia, dia mengusap sejenak pipiku dengan tatapannya yang agaknya
sudah mulai belabur itu.
"Hahaha! Kau kemari
bocah?! Kau cari mati ya? Kau sudah bosan hidup?" tawaan lelaki yang
terlihat sangat perkasa itu menggelegar di setiap sudut ruang bawah tanah ini.
Aku menatapnya dengan mengumpulkan seluruh keberanianku.
"Jangan... Jangan
dia. Aku saja," ucapan itu dilontarkan lemah oleh ibu. Aku takut.
"Sepertinya anakmu
ingin mati!" pekik orang yang tak pernah aku kenali itu.
Kenapa selalu seperti ini?
Aku tahu, orang-orang yang sempat melukai ibu ––bukan hanya kali ini saja,
tetapi saat-saat yang telah lalu dahulu–– itu hanyalah ingin melukai, bukannya
mebunuh. Pasti yang ada di pikiran mereka adalah menyiksa sampai benar-benar
tidak mampu melakukan apa-apa lagi. Setelah tidak bisa berbuat apa-apa, dengan
perlahan pasti akan mati dengan sendirinya.
Aku benci orang itu!
mereka, orang yang tak berperikemanusiaan itu datang sesuka hati mereka.
Menyiksa siapa pun sesuka hati mereka. Tidak tahu apa yang dirasakan sebenarnya
oleh si korban. Aku ingin hal itu segera hilang! Akan tetapi, mereka hanya akan
pergi ketika mereka sudah puas. Bukannya karena jeritan si korban yang tidak
ada gunanya itu ––menurut mereka––. Mereka selalu menolak untuk pergi. Kecuali
ketika mereka telah merasa kemenangan ada di pihak mereka. Tidakkah kalian
mendengar jeritan orang yang tak bersalah????????!!!!!!!!!!
NEXT?????
Huaaaaa..... yaampun.
Author lagi melawan artblock dan writeblock >.< bener" lagi kgk ada
ide buat ngebuat cover maupun FFnya >.<
♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪
D.O
– SCREAM (OST. CART)
=>ROMANIZATION<=
Godanhan
haruga gilgo gireotdeon nal
Hansum
gadeuk jichin mameul dajaba
Oneuldo
naeildo tto dasi ireona
Harul
sara gagetjyo
Magyeonhan
gidaedo memareun useumdo
Chacheum
byeonhae sigani jinagado
Seoreoun
maeumeun dodanan sangcheoneun
Sarajiji
anhayo
Seogeulpeun
uri oechimi deullinayo
Haneobsi
chamgo tto gyeondyeotjyo
Meon
gireul geotda eodumi chajawado
Du
soneul japgoseo neul hamkkeyeonneunde
Bulkkeojin
changmun teum sai hanjulgi bit
Eonjenganeun
hwanhi bichwojugireul
Barago
baramyeon kkok irwojilgeora
Mitgo
gidaryeonneunde
Seogeulpeun
uri oechimi deullinayo
Haneobsi
chamgo tto gyeondyeotjyo
Meon
gireul geotda eodumi chajawado
Du
soneul japgoseo neul hamkkeyeonneunde
Wae
amureon daedabi eomnayo
Wae
amureon mal eobsi sumgyeowannayo
Godanhan
haruga gilgo gireotdeon nal
Hansum
gadeuk jichin mameul dajaba
Oneuldo
naeildo tto dasi ireona
Harul
sara gagetjyo
#NOTE Biasanya paragraf ke
4 & 5 dihilangkan.
=>INDONESIAN
TRANSLATE<=
Hari-hari
melelahkan yang tampaknya terjadi selamanya
Aku
merangkul hati lelahku yang begitu mengeluh
Selama
aku bangun besok seperti yang kumiliki hari ini
Tentunya
aku akan hidup di hari lain
Harapan
ambigu dan tawa kosong
Secara
bertahap berubah sebagai hari-hari yang pergi, namun tidak peduli berapa banyak
waktu berlalu
Bernanah
luka dalam hati ini
Menolak
untuk menghilang
Dapatkah
teriakan putus asa kita didengar?
Kami
terus menahan mereka melalui semua yang telah kami alami
Bahkan
ketika kegelapan menemukan kami di jalan tak berujung
Kami
selalu di sisi masing-masing, berjalan bergandengan tangan
Aku
berharap setidaknya ada sorotan cahaya
Bersinar
melalui celah di jendela
Dan
aku menunggu, percaya kemungkinan bahwa
Jika
permintaan telah dibuat, itu pasti akan menjadi kenyataan
Dapat
teriakan putus asa kita didengar?
Kami
terus menahan mereka melalui semua yang telah kami alami
Bahkan
ketika kegelapan menemukan kami di jalan tak berujung
Kami
selalu di sisi masing-masing, berjalan bergandengan tangan
Mengapa
tidak ada jawaban?
Mengapa
kita diam-diam bersembunyi begitu lama
Hari-hari
melelahkan yang tampaknya terjadi selamanya
Aku
merangkul hati lelahku yang begitu mengeluh
Selama
aku bangun besok seperti yang kumiliki hari ini
Tentunya
aku akan hidup di hari lain

No comments:
Post a Comment