You Never Walk Alone~
just an ordinary site that the owner is k-lover...
Friday, February 17, 2017
[FANFICTION] Eomma (Mother) - Part 2 END
Cast : Do Kyungsoo (EXO) || Do
Minsae (OC) || Do Shinra (OC) || And Other
Length : TwoShoot (±1200 words)
Genre : Family, Sad,
Hurts, Angst (ga yakin berhasil), etc.
Rate : 9+
Author & Cover :
ChocoYeppeo
Disclaimer : Ini FF
imajinasiku sendiri. Gaada yang ikut campur disini. Jangan plagiat,
because kalo dosa ntar ditanggung sendiri. :"v
–—–––––Eomma—––––––
++ChocoYeppeo Present++
♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫
Dapatkah
teriakan putus asa kita didengar?
Kami
terus menahan mereka melalui semua yang telah kami alami
Bahkan
ketika kegelapan menemukan kami di jalan tak berujung
Kami
selalu di sisi masing-masing, berjalan bergandengan tangan
♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫
"KU
MOHON BERHENTI SEKARANG JUGA! KELUAR DARI RUMAHKU! Apakah kau tidak pernah
mengerti perasaan orang-orang yang tertindas seperti kami saat ini?
Bagaimanakah rasanya disakiti baik raga mau pun jiwanya? Apakah kau tidak
pernah memikirkan bagaimana jika kau yang berada di dalam posisi kami? Di dalam
posisi orang yang tertindas? Apakah kau sudah tidak memiliki rasa iba lagi?
Apakah kau melupakan bagaimana keadaan keluargamu yang berjuang sendiri tanpamu
seperti kami yang berjuang tanpa seorang ayah? APAKAH KAU TIDAK MEMIKIRKAN
BAGAIMANA SAKITNYA KAMI???!!! BAGAIMANA TAKUTNYA KAMI???!!! Ku mohon. Ini yang
terakhir. Aku lelah. Aku lelah. Berkali-kali kami diperlakukan semena-mena.
Berkali-kali kami tergores belati. Berkali-kali tamparan melayang di wajah
kami. Berkali-kali kami terhempas oleh senjata kalian. Tidakkah kalian memiliki
rasa peri kemanusiaan lagi? Tidakkah kalian, kalian para sekutu yang berasal
dari negara yang sempat menjadi satu dengan kalian itu, merasakan bagaimana
penderitaan kami? HENTIKANLAH SIKSA-SIKSA INI SEKARANG JUGA. Kami lelah.
Benar-benar tidak sanggup menghadapi hal-hal sejenis ini lagi. Kami mencoba
tetap semangat, kami mencoba tetap kuat. Tapi itu hanya tampak luar saja.
Bagaimana perasaan kami? Itu sakit. Tidakkah kau memikirkannya???... ITU
SAKIITT!!!!! Hiks... Hiks..."
Aku
melihat nyata. Yeodongsaengku keluar dari tempatnya sembunyi. Wajahnya
benar-benar merah. Tak lupa, air matanya telah mengguyur pipi yang tak persalah
itu. dia berlari, menghadap orang biadab itu. Entah apa yang dia pikirkan tadi
sehingga sekarang dia berani melakukan ini. Apakah ini yang pertama kalinya dia
menghadapi orang-orang bengis seperti itu? jawabannya adalah I.YA.
Sedetik
kemudian, dengan sigap aku menarik yeodongsaengku ke pelukanku. Aneh sekali.
Bersamaan dengan itu, orang yang benar-benar kejam itu keluar dari rumahku
tanpa meninggalkan suatu pesan apa pun. Aku cukup bersyukur karena dia telah
pergi dari kediamanku dengan keluarga kecilku ini. Akan tetapi, di sisi lain,
aku mingkin telah menangis sekeras-kerasnya, karena...ibuku.
"Ibu,
kau... kau tak mengapa?" tanyaku lirih. Tentunya perasaanku sedang tidak
baik sekarang. Ditambah lagi, yeodongsaengku yang terus menangis di dekapanku.
"Ah,
ambilkan kain di dapur nak. Jangan lupa air hangatnya juga. Aku tidak apa-apa.
Sebentar lagi aku akan sembuh. Kalian tidak perlu khawatir denganku. Hehe. Aku
tidak pantas untuk dikhawatirkan. Apalagi aku yang tadi gagal melindungi
kalian. Seharusnya aku meminta maaf kepada kalian. Aku terlalu lemah." Ya,
ibu masih tetap mencoba tersenyum kepadaku dan adik perempuanku. Bahkan tidak
hanya tersenyum, tetapi terkikik. Meski pun dengan keadaannya yang sekarang
bisa dikatakan...tidak bisa diharapkan lagi, tapi dia...
Terimakasih
ibu.
Aku
memang tak pantas menjadi pelindungmu.
Hanya
kau lah yang pantas disebut pahlawan.
Luka,
di sekujur tubuhmu.
Bukanlah
penghalang semuanya.
Kau
bahkan tidak takut menghadapi kematian demi kami, anak-anakmu.
Bisakah
aku membalas salah satu dari kasihmu?
Ku
mohon, satu saja.
Aku
tidak pantas menjadi anakmu jika aku saja tidak bisa membalas apa yang telah
kau berikan kepadaku selama bertahun-tahun.
Sejak
aku ada, mungkin aku selalu merepotkanmu.
Ibu,
날사랑해요...
"Ini.
Apakah aku bisa membantu?" ucapku sekembalinya dari dapur seraya
menyuguhkan sebaskom air hangat dan juga satu kain berwarna putih. Sepertinya
tidak pantas dikatakan putih lagi, karena kain itu benar-benar nampak kumal.
Warnanya sedikit kecokelatan. Ada bercak-bercak yang aku tidak ketahui bercak
apa itu. mungkin itu karena lama sudah tidak dipakai. Pasalnya, kain itu aku
temukan di nakas kecil pojok dapur yang memang di sana sudah terdapat sarang
laba-laba.
"Tidak
perlu. Sudahlah. Kau ini tidak perlu memasang wajah cemas seperti itu."
canda ibuku. Kenapa bercanda? Apakah dia tidak kesakitan?
'Kalian
adalah obat penyembuh yang paling mempengaruhiku. Aku hidup karena kalian para
malaikat kecilku. Aku bertahan karena kalian. Aku adalah seorang wanita yang
tidak bertanggung jawab jika aku pergi meninggalkan kalian dalam keadaan yang
tidak aman seperti ini. Aku sangat berterimakasih kepada kalian. Tanpa kalian,
mungkin aku sudah tidak bisa bertahan di dunia yang kejam ini.' Batin ibuku
yang saat ini sedang sibuk membersihkan sedikit darah yang ada di sekitar
perutnya. Bajunya pun pada bagian perutnya sudah berubah warna menjadi merah
darah. Apakah itu tidak kejam?!
"Ibu...tidak
akan...pergi 'kan?" ku dengar ucapan itu melayang begitu saja dari mulut
yeodongsaengku. Aku menoleh ke arahnya. Dia menangis. Sekarang indera penglihatanku
sedang menahan air matanya. Rasa takutku datang. Ku mohon. Tuhan... jangan
ambil ibuku. Aku mencintainya...
"Hahaha...
kau ini bicara apa hm? Tentu aku tidak akan pergi sayang..." balas ibu
sembari tersenyum kecut. Tangannya mengacak gemas rambut Shinra. Meski saat ini
dia sedang sedikit tertawa, tapi aku tahu bagaimana rasanya terkena benda tajam
yang dibawa orang menyebalkan tadi. Itu sakit. Bahkan sangaaattt sakit. Ibu,
kau sangat kuat! Aku bangga padamu!
"Nah,
sudah selesai. Sakitnya tidak terasa lagi sekarang," ucap ibu seraya
bangkit dan membawa baskom berisi air hangat tadi ke dapur. "Ibu seperti
ini.....berkat kalian.." lirihnya sambil berjalan.
Aku
dan adikku tersenyum haru. Apakah semua ibu di dunia ini seperti itu? jika iya,
ku mohon, Tuhan, bahagiakan seluruh ibu di dunia ini dengan keluarganya...
"Ibuuu!!!"
seruku dan yeodongsaengku sambil berlari menyusul ibu ke dapur kemudian
mendekap tangan ibu setelah ibu meletakkan baskom tadi ke tempat cuci piring.
Aku yang kanan, dan Shinra yang kiri. Terasa hangat. Aku tidak ingin melepaskan
ini. Sungguh tidak ingin.
"Ya! Kalian
ini." Kekeh ibu.
Aku dan yeodongsaengku
bergelayutan mengikuti arah jalan ibu. Telapak tangannya kami genggam kuat
seakan di sana ada sebuah perekat super yang tidak dapat lepas lagi. Kami
benar-benar ingin bersama ibu...selamanya. terutama aku. Ingin rasanya aku
membayar semuanya apa yang telah ibu berikan kepadaku.
Bau darah segar masih
sedikit tercium dari perut ibu. Tapi ku lihat, dia tidak mengeluh sekata pun.
Aku, Shinra, dan Ibu,
berjanji agar saling melengkapi. Tidak akan pernah ada yang pergi jauh. Tidak
akan pernah ada yang menghilang. Semoga kami selalu bersama.
'Tuhan, jagalah ibuku.'
Batinku. Tidak terasa terasa air mataku hampir menetes. Akan tetapi, aku masih
berusaha pempertahankannya agar tetap berada pada tempatnya.
'Tuhan apakah
yeodongsaengku ini harus menjadi dewasa sebelum waktunya? Bahkan dia masih
perlu pendidikan.' Batinku lagi. Shinra nampak kurang terdidik sekarang. Sudah
tertinggal berapa kali dia untuk sekolah? Pasti dia juga teramat sangat
merindukan canda tawa teman-temannya. Dan mungkin...teman laki-lakinya.
'Tuhan. Kau boleh
mengambilku jika hidupku ini sudah tidak berguna. Akan tetapi, ku mohon.
Biarkanlah aku tetap bernafas jika aku memang masih berkewajiban menjadi kepala
keluarga dari mereka.'
'Tuhan. Selesaikanlah
semua masalah di bumi ini. Aku tidak ingin semua orang tersiksa. Aku ingin
mereka semua hidup bahagia.'
"Oppa, kau tidak
menikah?" celetuk Shinra yang langsung memukul keras semua pikiranku tanpa
disadarinya.
"Menikah? Ya itu ide
yang bagus!" sambar ibu sambil terkekeh geli. Ya, masih dengan kedua
tangannya yang diborgol oleh anak-anaknya itu.
"Aku tidak akan
menikah jika aku harus meninggalkan kalian..." jawabku penuh kepastian.
Secara tiba-tiba, ibu
melepaskan tangan kami yang tadinya bergelayutan. Matanya berlinang. Memeluk
kami dengan erat. Terdapat beberapa isakan di dalamnya. Aku, Shinra, Ibu,
saling membanjiri pipi masing-masing. Seakan kami hendak berpisah. Tetapi tidak!
Sekali lagi tidak! Kami menumpahkan segala jenis kesedihan milik kami saat ini
juga. Kesedihan yang telah lama kami pendam sedalam-dalamnya di dalam hati
mungil kami. Saling memeluk, menggenggam tangan yang terasa dingin.
KAPAN NEGERI INI AKAN
DAMAI?!
–—–––––Eomma—––––––
++ChocoYeppeo Present++
Ibu, maafkan aku. Aku
harus pergi.
Mungkin aku bisa dibilang
aneh karena aku berpamitan kepada orang yang masih tertidur lelap. Jauh sebelum
fajar datang tentunya.
Tekadku sudah bulat. Aku
akan pergi mengikuti pertempuran ini.
–—–––––Eomma—––––––
++ChocoYeppeo Present++
♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫
Mengapa
tidak ada jawaban?
Mengapa
kita diam-diam bersembunyi begitu lama
♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫
Ku kira, aku beruntung
karena setelah kurang lebih hampir 1 hari penuh ini aku masih bisa selamat.
Meskipun sekarang tubuhku penuh luka, tapi sebuah kehidupan sudah lebih dari
cukup bagiku.
CKLEK
Aku masuk ke tempat pengap
ini lagi. Ke rumahku.
"Oppa!"
yeodongsaengku lari terbirit-birit menuju aku yang saat ini sedang meletakkan
semua perlengkapan berperangku. Yeodongsaemgku menarik tanganku kuat dan
mengajakku segera ke tempat yang lebih dalam.
"Haaahh?" aku
menarik nafasku panjang.
"Eomma!" aku
memangkunya. Memangku tubuh yang telah terkulai itu. dengan sedikit suara
isakanku dan Shinra.
Eomma, kenapa kau
meninggalkan kami? Bagaimana dengan janji kita? Bagaimana kami bisa berjalan ke
masa depan tanpamu lagi? Tanpa orang tua?
"EOMMAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
.
.
.
END~
more stories : chocoyeppeo
more stories : chocoyeppeo
[FANFICTION] Eomma (Mother) - Part 1
Or
PLAY : DO KYUNGSOO –
CRYING OUT
Intinya liriknya sama,
tapi mungkin keyakinan judul lagunya yang beda-beda :3
Lirik lengkap dan
terjemahan indonesia ada di bagian akhir fanfiction ini.
********************
********************
–—–––––Eomma—––––––
++ChocoYeppeo Present++
♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫
Hari-hari
melelahkan yang tampaknya terjadi selamanya
Aku
merangkul hati lelahku yang begitu mengeluh
Selama
aku bangun besok seperti yang kumiliki hari ini
Tentunya
aku akan hidup di hari lain
♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫
<> Kyungsoo POV
<>
Seperti biasanya, aku
terbangun dari tidurku tanpa sebuah alarm atau pun cahaya mentari yang mampu
menerobos ke dalam kamarku melalui celah ventilasi. Ralat, bukan kamar. Aku
juga tidak tahu apa namanya. Akan tetapi, ruangan ini tidak pantas jika disebut
dengan kata 'kamar'.Hanya menggunakan jam biologi aku bisa bangun tepat waktu.
Namun, jika aku kelelahan mungkin aku akan bangun ketika ibuku membangunkanku.
Ya, ini terjadi sejak dari 3 tahun yang lalu tepatnya tahun 2018.
Awalnya memang belum
terbiasa, namun seiring berjalannya waktu dan juga keadaan sekitar yang
mengharuskan hal ini aku lakukan, mau tidak mau aku memang harus seperti ini.
Tinggal di rumah bawah tanah. Buatan ayahku ketika suasana antara negaraku dan
negara tetangga mulai memanas. Karena perasaan ayahku akan ada suatu bahaya
besar, dia pun membangun rumah ini.
Hanya sebuah ruangan yang
berukuran 10 X 10 meter tempat untuk perlindungan kami. Rumah kami yang
sebenarnya ––yang berada di permukaan tanah itu–– memang cukup besar dan luas.
Tetapi apa dayaku dan keluargaku untuk menjaga rumah itu dari kehancuran.
Kekuatan pasukan perang pasti lebih kuat dari pada keluargaku.
Semua bangunan di sana
sini di permukaan bumi Korea Selatan tidak ada yang berdiri kokoh sempurna.
Bahkan, sebagian besar dari semua itu telah merata dengan tanah.
Tidak sedikit pula
nyawa-nyawa di negara ini yang telah melayang akibat perselisihan ini. Hanya
berawal dari sebuah perebutan wilayah kecil di perbatasan, pada akhirnya aku
juga tidak menyangka jika keadaan seperti ini akan terjadi kembali setelah
berpuluh-puluh tahun dua negara ini hidup tenteram dan damai.
Banyak jasad-jasad
bergelimpangan di atas tanah sana, sebagian juga telah luluh bercampur dengan
tanah dan meninggalkan tulang belulang keras berwarna putih pekat. Tidak ada
yang peduli dengan itu. Tidak ada yang hendak menguburnya dengan ketulusan
hati. Asal bukan dirinya sendiri, maka itu bukanlah urusan mereka. Karena saat
ini urusan para tentara militer dan juga pasukan-pasukannya yang masih bertahan
itu adalah mempertahankan wilayah Korea Selatan dan memerdekakan wilayah
tersebut untuk ke dua kalinya dari sebuah penjajahan.
Tidak hanya di daratan
bumi korea selatan, begitu pula dengan keadaan bumi korea sebelah utara.
Suasana gelap dan menyeramkan menyelimuti daerah itu. Korea Selatan dan Korea
Utara, sekarang hanyalah tanah mengerikan bak neraka yang terletak di antara
keindahan dunia.
Kedua negara yang awalnya
satu. Kemudian terpecah dengan damai menjadi dua bagian. Beberapa tahun
kemudian, kedua negara saling memberontak. Dan akhirnya mereka menyalahi
sendiri semua perjanjian yang telah ditandatangani jauh-jauh hari sebelumnya.
Sudah berapa liter cairan
merah yang tumpah dari awal hingga sekarang ini? Aku tak dapat membayangkan
jika semuanya dikumpulkan menjadi satu kesatuan. Mungkin itu dapat dijadikan
air pengisi kolam renang.
Bau anyir akibat cairan
merah itu pun telah biasa membaui keadaan di luar sana. Namun, aku saja tidak
setiap hari merasakannya karena terkadang ibuku melarangku untuk keluar dari
ruangan sempit nan sesak ini. Katanya, itu demi keselamatanku.
"Kyungsoo-ya, jangan
melamun." Sebuah suara yang telah lazim ku dengarkan sejak aku lahir telah
membuyarkan angan-anganku. Hm, sebuah keinginan untuk membalaskan kematian
ayahku ketika perang. Mungkin itu sebentar lagi. Dan itu adalah yang pertama
kalinya aku ikut terjun ke dalam sana.
"Ah mwo? Apakah aku
melamun? Ku rasa tidak. Aku hanya masih mengantuk eomma."ujarku dan
refleks mengubah posisi dudukku yang tadinya bersandar di dinding sambil
meluruskan kaki, sekarang menjadi duduk bersila dan melepas sandarannya. Aku
pun menggosok-gosok mataku dengan tangan agar ibuku tidak memperpanjang
pembahasan ini.
Setiap pagi, setelah aku
bangun tidur, biasanya dia selalu menghampiriku seperti ini. Dia menuntunku ke
meja makan. Ah, bukan meja makan, tetapi hanya tempat lesehan yang memang
digunakan untuk makan. Menu makanan? Itu sangat sederhana. Bahkan itu terlalu
buruk untuk gizi yeodongsaengku.
"Annyeong Oppa!"
itulah kalimat pertama yang yeodongsaengku gunakan untuk menyapaku. Itu bermula
sejak hidup kami sudah tidak aman lagi. Mungkin gadis muda ini benar-benar
takut kehilanganku dan kehilangan ibunya sendiri.
Seusai saling memberikan
sapaan selamat pagi, adik perempuanku ––Shinra–– dia langsung mengecup kedua
sisi muka di bawah pelipis eomma dan mendapatkan balasan yang setimpal pula
dari eomma. Kemudian, Shinra mengecup kedua sisi muka ku. Jika dia sedang usil,
biasanya dia tiba-tiba saja mengecup bibir suciku ini secepat kilat. Hal itu
sudah biasa mendapatkan tawaan mengejek dari ibu kami. Dan pada akhirnya, aku
hanya akan menjitak(?) kepala adikku itu. tentu hanya bercanda, dan pasti tidak
terlaku keras 'kan?
♪♫♪♫ Backsound : Suara
gemuruh '-'♪♫♪♫
"Eomma..." lirih
Shinra yang menghentikan aktivitas makannya dan berbalik memeluk eomma. Ya,
pelukan takut dan pelukan tak ingin kehilangan. Aku hanya menatapnya sendu.
Saat ini aku masih belum berani perbuat apa-apa.
"Tenanglah sayang.
Itu 'kan hal yang biasa. Jangan takut. Kau sudah besar. Kita cukup berdo'a
kepada Sang Pengatur agar hal ini segera terselesaikan." Begitulah untaian
kalimat-kalimat pendek ibuku yang terdengar sangat pasrah dan tulus dengan
hatinya.
Aku cukup tersentuh dengan
suara itu. bukan suara gemuruh langkah-langkah para tentara perang di atas
sana, tapi suara penuh hikmah dari eomma. Tidak biasanya eomma mengatakan hal
semacam itu. Kata-katanya cukup terngiang dan hanyut di dalam otakku. Ah,
sudahlah. Berhentilah berpikir mengada-ngada Kyungsoo!!!
"Eomma... tidak
akan... pergi lagi 'kan?" tanya Shinra dengan amat pelan dan
menenggelamkan wajahnya ke dalam lekukan leher ibu. Aku jelas mendengar
pertanyaan Shinra itu. entah karena dorongan apa dan siapa, aku benar-benar
ingin menggantikan posisi ibuku itu. aku ingin ibu tetap tinggal di rumah, dan
aku yang akan pergi ke medan perang. Meskipun aku tidak bisa kembali lagi, itu
bukanlah masalah. Aku hanya ingin melindungi keluargaku. Secara, sekarang ini
aku bak seorang kepala keluarga yang memiliki tugas besar yaitu melindungu
anggota keluarga lainnya.
"Shinra, habiskan
makananmu sebelum dimakan oleh kakakmu. Kau tahu 'kan kalau dia rakus?"
aku tak mendengar ucapan ibu untuk menjawab pertanyaan Shinra tadi. Aku hanya
melihatnya melepaskan dekapan Shinra dan tersenyum hangan kepada Shinra juga
kepadaku. Senyum yang terlihat penuh keterpaksaan.
Sudah ku usahakan untuk
membuang pikiran apa pun yang mendekati arah negative. Namun kenapa itu begitu
sulit???
"Yak, aku tidak
rakus!" seruku tidak terima dengan perkataan ibu yang tadi, sambil terus
mengunyah makananku yang masih mengumpul banyak di dalam mulut. Aku
berpura-pura tidak mengerti akan raut wajah ibu yang terlihat berbeda dengan
hari-hari sebelumnya itu. Aku memasang wajah bete kepada ibu dan yeodongsaengku
seraya melahap makanan yang berikutnya.
Sungguh di dalam lubuk
hatiku yang paling dalam, sebenarnya aku sudah lelah menjalani hari-hariku yang
seperti ini. Tidak adakah kesempatan untuk mendapatkan hari cerah dan bahagia
lagi di tempat ini? Tidak ada lagikah udara segar nan sejuk untuk paru-paruku
ini? Tidak adakah kehidupan ramai bagaikan di kota-kota negara lain? Sekarang
tempat ini adalah wilayah mati. Gelap. Mengerikan. Tidak patut untuk
ditinggali. Itu adalah fakta Korea untuk detik ini. Dan mungkin untuk jam-jam
berikutnya. Untuk hari-hari setelah ini. Untuk... selamanya?
Tidak inginkah mereka
berdamai? Tidakkah mereka memperdulikan keluhan, kesedihan, dan kesengsaraan
rakyat lemah sepertiku saat ini? AAAARRRRGGGGHHHH!!!! Aku sungguhan sudah muak
dengan keadaan ini!
"Oppa! Ternyata kau
rakus ya?! Jangan ambil makanan bagianku! Aku tidak terima!" bentak Shinra
sambil merebut piring yang ada di hadapanku. Aku saja bingung. Itu 'kan
piringku, sedangkan piring Shinra sendiri ada di hadapannya.
"Yak! Ini
milikku!" lawanku tidak mau kalah.
"Yak! Kau sudah
besar! Tidakkah kau mengalah pada anak kecil?!" balas yeodongsaengku itu
yang masih saja menggenggam erat piringku.
"Kembalikan!"
aku merebut piringku paksa dari tangan adik perempuanku yang tak kunjung
menyerah mempertahankan piringku itu.
"Ckckck. Kalian ini.
Belajarlah untuk menjadi saudara yang baik." Ibu berkacak pinggang melihat
tingkahku bersama yeodongsaengku. Sedetik setelah itu, ibu lekas berjalan ke
salah satu bilik kecil di ruangan ini. Aku dan yeodongsaengku hanya terduduk
melongo melihat ke arah ibu.
"Oppa, aku ingin
sekolah lagi. Aku merindukan semua sahabatku. Aku ingin bercanda tawa lagi
dengan teman-temanku. Sekarang mereka ke mana pun aku sudah tidak tahu. Kapan
aku bisa sekolah lagi? Apakah aku akan naik kelas jika sudah bertahun-tahun
tidak bersekolah? Oppa... aku ingin sekolah," tiba-tiba Shinra
melingkarkan tangannya di pinggangku. Kepalanya juga dia sandarkan di bahu
kiriku. Aku terlonjak dengan sikapnya kala itu. juga sedikit tidak percaya
dengan kalimat-kalimat mustahil ––untuk saat ini–– yang baru terlepas dari
mulitnya begitu saja.
"Semoga secercah
cahaya akan segera datang... Secepatnya..." ucapku pada Shinra sembari
mengelus lembut rambut belakangnya. Sedangkan tanganku yang satunya mendekap
tubuhnya dengan erat. Ku coba menahan air mataku. Aku cukup merasakannya. Cukup
merasakan kesedihan Shinra yang kehilangan pendidikannya karena semua ini.
Begitu pun dengan diriku. Aku harus rela memutuskan kuliahku sebelum waktunya.
Karena apa lagi, pasti karena perselisihan ini. Tidak sedikit sarana pendidikan
yang musnah.
"Oppa..." lirih
Shinra dengan mengarahkan matanya kepadaku. Ku tatap dalam-dalam matanya. Ku
lihat, Shinra tidak mengerti dengan kata-kataku tadi.
"Hmmm?" balasku
dengan menaikkan alisku.
"Secercah cahaya apa
maksudmu, Oppa?" tanya Shinra dengan wajah yang benar-benar berhasil
mengenai hatiku yang paling dalam. Wajah lugu? Polos? Benar-benar tidak
mengerti?
"Oh, tidak. Tidak.
Lupakan saja." Aku berusaha menghapus ingatannya pada perkataanku tadi.
Aku tenggelamkan wajah
yeodongsaengku ke dalam lekukan leherku lagi. Aku hanya ingin dia merasa
nyaman. Merasa tenang dan melupakan apa yang ada di dunia nyatanya sekarang
ini. Tapi, ku rasa itu teramat sulit bagi seorang gadis yang masih belum genap
berusia remaja sewajarnya itu. Pikirannya masih kekanakan terkadang. Akan
tetapi, jika hati gadis muda itu terlanda suatu permasalahan yang mendalam, itu
akan benar-benar lebih rumit dari pada masalah orang dewasa sekarang.
–—–––––Eomma—––––––
++ChocoYeppeo Present++
♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫
Harapan
ambigu dan tawa kosong
Secara
bertahap berubah sebagai hari-hari yang pergi, namun tidak peduli berapa banyak
waktu berlalu
Bernanah
luka dalam hati ini
Menolak
untuk menghilang
♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫♪♫
Hari ini, pagi ini,
entahlah ini hitungan hari yang ke berapa. 1000 haru mungkin? Kurang ata lebih?
Yang terpenting adalah, hari ini masih sama seperti hari-hari yang sebelumnya.
Hari yang terkesan menyeramkan, mengerikan, dan tidak pantas ada! Bahkan
sepertinya hari ini lebih buruk dari hari-hariku yang sebelumnya.
CKLEK.....
Yap. Seseorang telah
berhasil merampas seluruh tawaan yang baru saja kami hasilkan. Tawaanku, tawa
ibuku, tawa yeodongsaengku. Semuanya pudar begitu saja. Bisa dipastikan, 1...
2... 3... Kami harus bersiap-siap menjaga diri kami dari mereka. Ini sudah
biasa terjadi, meskipun bukan untuk setiap hari.
Kami bersama-sama bangkit,
melihat siapa tamu kami. Dan itu sudah tertebak. Aku melihat wajah ibuku yang begitu
gusar. Sedangkan yeodongsaengku berlarian menuju tempat mana pun yang dia kira
aman. Kali ini, aku benar-benar tidak tahu harus ke mana lagi.
"KYUNGSOO!!! PERGI
DARI SINI!!!"
Suara pekikan itu dengan
jelas telah berhasil melewati kedua gendang telingaku dan tercerna dengan baik
di dalam tubuhku. Aku tahu apa yang diinginkan oleh jeritan seorang wanita itu.
Ya, yang diinginkan seorang ibu pastinya adalah keselamatan makhluk yang sempat
dikandungnya untuk beberapa bulan.
Jujur, aku sebenarnya
tidak ingin membuat orang yang semestinya aku lindungi malah berbalik
melindungiku. Ku pikir, cukup untuk hari yang lalu saja. Tidak untuk detik ini!
Aku lupa betapa besar pengorbanannya demi keturunannya, aku lupa betapa relanya
dia melukai tubuhnya sendiri demi orang yang disayanginya, aku lupa sudah
berapa kali aku mengabaikan permintaannya ketika aku merasa cukup ––mendapatkan
apa yang aku inginkan––
"PERGI!!!"
rintihan itu. Rintihan suci dari sang malaikat. Aku ingin membantu. Aku ingin
menyelamatkan. Akan tetapi, aku sungguh tidakk pantas disebut-sebut dengan
sebutan 'malaikat'.
Guratan-guratan kecil
namun membuatku begitu menyesalinya, tiba-tiba saja terlintas di dalam
ingatanku. Sesaat. Aku memejamkan mataku keras. Berharap hal-hal itu segera
pergi dari pikiranku sekarang. Itu terus terngiang, terngiang, dan terngiang.
Ibu, maafkan aku. Aku tidak pantas disebut sebagai anakmu.
Aku sempat mengingat
kembali sesuatu yang bodoh yang pernah ku lakukan kepada ibuku. Waktu aku
kecil, waktu aku tumbuh remaja, waktu aku mulai menjadi dewasa.
(:) "Kyungsoo, apakah
kau menyukai sepatu bola ini? Ini ibu belikan khusus untuk hari ulang tahunmu,
sayang,". Ucapan lembut itu dilanjutkan dengan kecupan satu kali di
keningku. "Ani!!! Aku tidak suka! Ini jelek sekali! Apa inbu tidak tahu
apa yang ku inginkan sekarang?!" omel diriku yang masih kanak-kanak.
Setelah itu, aku berlari ke halaman dan mebuang sepatu bola itu.
(:) "Ibu, cucikan
seragam sekolahku!" ucapku yang masih SD sembarangan sambil melempar satu
stel seragam sekolah tepat ke wajah ibuku. "Kyungsoo, kau harus belajar
untuk menc—" ya, jawaban itu segera aku potong dengan ucapan "JANGAN
MENASEHATIKU IBU!". Oh, ku rasa bukan ucapan, tetapi itu pantas dikatakan
teriakan.
(:) aku yang sepertinya
berumur 14 tahun, saat itu sedang bermain bola. Saking asyiknya, ternyata bola
itu mengenai ibuku. "Yah, ibu. Kau ini mengganggu saja!" keluhku
sambil memungut bolaku yang tadi mengenai ibu. "Kau yang seharusnya
hati-hati, Kyungsoo." Ucap wanita itu tanpa rasa marah setitik pun. Namun,
bodohnya aku. Kenapa aku malah mengacuhkannya?
Eoh... Ribuan tuntutan
sekarang sedang berdemo di kepalaku. Kepalaku benar-benar berat. Akan tetapi,
ini belum ada apa-apanya.
"Argh!" pekik
wanita yang sedang fokus dengan seorang musuh itu. aku refleks menghapus semua
pikiran-pikiranku sebelumnya. Aku khawatir. Ya, kali ini aku khawatir. Aku
rasa, hari telah berlalu sangat panjang. Apakah aku terlambat jika menyesalinya
sekarang?
"IBU!!!"
teriakku seraya menghampiri orang yang sempat ku panggil itu. oh tidak, dia
nampak terkulai lemas. Aku tidak berani! Ah tidak! Aku harus berani melawan
semua rasa ketidakberanianku itu!
"Kau tidak
kenapa-napa?" tanyaku khawatir dilanjutkan dengan memangku kepala ibu di
pahaku. Oh! Darah?! Apakah perutnya akan sakit parah?! Aku takut ibu.
Jangan.....
"Pergi, aku tidak
apa-apa. Aku... aku akan tetap melindungimu. Pergilah, jangan kemari..."
terlihat secuil senyuman dalam ucapan ibu itu. menahan rasa perih. Namun masih
bersemangat. Dia, dia mengusap sejenak pipiku dengan tatapannya yang agaknya
sudah mulai belabur itu.
"Hahaha! Kau kemari
bocah?! Kau cari mati ya? Kau sudah bosan hidup?" tawaan lelaki yang
terlihat sangat perkasa itu menggelegar di setiap sudut ruang bawah tanah ini.
Aku menatapnya dengan mengumpulkan seluruh keberanianku.
"Jangan... Jangan
dia. Aku saja," ucapan itu dilontarkan lemah oleh ibu. Aku takut.
"Sepertinya anakmu
ingin mati!" pekik orang yang tak pernah aku kenali itu.
Kenapa selalu seperti ini?
Aku tahu, orang-orang yang sempat melukai ibu ––bukan hanya kali ini saja,
tetapi saat-saat yang telah lalu dahulu–– itu hanyalah ingin melukai, bukannya
mebunuh. Pasti yang ada di pikiran mereka adalah menyiksa sampai benar-benar
tidak mampu melakukan apa-apa lagi. Setelah tidak bisa berbuat apa-apa, dengan
perlahan pasti akan mati dengan sendirinya.
Aku benci orang itu!
mereka, orang yang tak berperikemanusiaan itu datang sesuka hati mereka.
Menyiksa siapa pun sesuka hati mereka. Tidak tahu apa yang dirasakan sebenarnya
oleh si korban. Aku ingin hal itu segera hilang! Akan tetapi, mereka hanya akan
pergi ketika mereka sudah puas. Bukannya karena jeritan si korban yang tidak
ada gunanya itu ––menurut mereka––. Mereka selalu menolak untuk pergi. Kecuali
ketika mereka telah merasa kemenangan ada di pihak mereka. Tidakkah kalian
mendengar jeritan orang yang tak bersalah????????!!!!!!!!!!
NEXT?????
Huaaaaa..... yaampun.
Author lagi melawan artblock dan writeblock >.< bener" lagi kgk ada
ide buat ngebuat cover maupun FFnya >.<
♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪
D.O
– SCREAM (OST. CART)
=>ROMANIZATION<=
Godanhan
haruga gilgo gireotdeon nal
Hansum
gadeuk jichin mameul dajaba
Oneuldo
naeildo tto dasi ireona
Harul
sara gagetjyo
Magyeonhan
gidaedo memareun useumdo
Chacheum
byeonhae sigani jinagado
Seoreoun
maeumeun dodanan sangcheoneun
Sarajiji
anhayo
Seogeulpeun
uri oechimi deullinayo
Haneobsi
chamgo tto gyeondyeotjyo
Meon
gireul geotda eodumi chajawado
Du
soneul japgoseo neul hamkkeyeonneunde
Bulkkeojin
changmun teum sai hanjulgi bit
Eonjenganeun
hwanhi bichwojugireul
Barago
baramyeon kkok irwojilgeora
Mitgo
gidaryeonneunde
Seogeulpeun
uri oechimi deullinayo
Haneobsi
chamgo tto gyeondyeotjyo
Meon
gireul geotda eodumi chajawado
Du
soneul japgoseo neul hamkkeyeonneunde
Wae
amureon daedabi eomnayo
Wae
amureon mal eobsi sumgyeowannayo
Godanhan
haruga gilgo gireotdeon nal
Hansum
gadeuk jichin mameul dajaba
Oneuldo
naeildo tto dasi ireona
Harul
sara gagetjyo
#NOTE Biasanya paragraf ke
4 & 5 dihilangkan.
=>INDONESIAN
TRANSLATE<=
Hari-hari
melelahkan yang tampaknya terjadi selamanya
Aku
merangkul hati lelahku yang begitu mengeluh
Selama
aku bangun besok seperti yang kumiliki hari ini
Tentunya
aku akan hidup di hari lain
Harapan
ambigu dan tawa kosong
Secara
bertahap berubah sebagai hari-hari yang pergi, namun tidak peduli berapa banyak
waktu berlalu
Bernanah
luka dalam hati ini
Menolak
untuk menghilang
Dapatkah
teriakan putus asa kita didengar?
Kami
terus menahan mereka melalui semua yang telah kami alami
Bahkan
ketika kegelapan menemukan kami di jalan tak berujung
Kami
selalu di sisi masing-masing, berjalan bergandengan tangan
Aku
berharap setidaknya ada sorotan cahaya
Bersinar
melalui celah di jendela
Dan
aku menunggu, percaya kemungkinan bahwa
Jika
permintaan telah dibuat, itu pasti akan menjadi kenyataan
Dapat
teriakan putus asa kita didengar?
Kami
terus menahan mereka melalui semua yang telah kami alami
Bahkan
ketika kegelapan menemukan kami di jalan tak berujung
Kami
selalu di sisi masing-masing, berjalan bergandengan tangan
Mengapa
tidak ada jawaban?
Mengapa
kita diam-diam bersembunyi begitu lama
Hari-hari
melelahkan yang tampaknya terjadi selamanya
Aku
merangkul hati lelahku yang begitu mengeluh
Selama
aku bangun besok seperti yang kumiliki hari ini
Tentunya
aku akan hidup di hari lain
Wednesday, May 20, 2015
Nama Ilmiah Hewan
Nama Ilmiah Hewan
Achatina fulica : Bekicot
Acheta domestica : Jangkrik
Alligator sp : Buaya
Anax imperator : Sibar-sibar raja
Apis indica : Lebah madu
Archotermopsis : Rayap/laron
Ascarisa lumbricoides : Cacing perut manusia
Aurelia aurita : Ubur-ubur
Berardius bairdii : Paus berparuh raksasa
Birgus latro : Ketam kenari
Bos sondaicus : Banteng
Bos indicus : Sapi india
Alligator sp : Buaya
Anax imperator : Sibar-sibar raja
Apis indica : Lebah madu
Archotermopsis : Rayap/laron
Ascarisa lumbricoides : Cacing perut manusia
Aurelia aurita : Ubur-ubur
Berardius bairdii : Paus berparuh raksasa
Birgus latro : Ketam kenari
Bos sondaicus : Banteng
Bos indicus : Sapi india
Bubalus quarlesi : Anoa
Bufo marinus : Katak besar
Cancer pangyrus : Kepiting
Bufo marinus : Katak besar
Cancer pangyrus : Kepiting
Canis lupus : Serigala eropa
Cepra aegrasus : Kambing
Cepra aegrasus : Kambing
Chameleon chameleon
: Bunglon
Chanos chanos : Ikan bandeng
Channa striata : Ikan gabus
Chelonia imbricata : Penyu besar
Chelonia mydas : Penyu hijau
Choeropsis liberiensis : Kuda Nil pigmi Afrika
Cimex : Kutu busuk
Clarias batrachus : Ikan lele
Columba livia : Merpati
Crocodylus americanus : Buaya Amerika
Cryptobranchus : Salamander di sungai
Cygnus sp : Angsa
Cyprinus carpio : Ikan mas
Dasyatis sabina : Ikan pari
Chanos chanos : Ikan bandeng
Channa striata : Ikan gabus
Chelonia imbricata : Penyu besar
Chelonia mydas : Penyu hijau
Choeropsis liberiensis : Kuda Nil pigmi Afrika
Cimex : Kutu busuk
Clarias batrachus : Ikan lele
Columba livia : Merpati
Crocodylus americanus : Buaya Amerika
Cryptobranchus : Salamander di sungai
Cygnus sp : Angsa
Cyprinus carpio : Ikan mas
Dasyatis sabina : Ikan pari
Delphinus delphis : Lumba-lumba
Dendrocigna javanica : Belibis
Drosophila melanogaster : Lalat buah
Dendrocigna javanica : Belibis
Drosophila melanogaster : Lalat buah
Enterobius vermicularis
: Cacing kremi
Eptecicus sp : Kelelawar coklat
Euplectella : Pena laut
Fasciola hepatica : Cacing hati
Felis leo : Macan afrika
Gallus gallus banleiva : Ayam hutan
Geopelia striata : Burung Perkutut
Gracula religiosa : Burung Beo
Haemadipsa javanica : Pacet di darat
Eptecicus sp : Kelelawar coklat
Euplectella : Pena laut
Fasciola hepatica : Cacing hati
Felis leo : Macan afrika
Gallus gallus banleiva : Ayam hutan
Geopelia striata : Burung Perkutut
Gracula religiosa : Burung Beo
Haemadipsa javanica : Pacet di darat
Helarctos malayanus
: Beruang madu
Heteropoda venatoria : Laba-laba pemburu
Hippocampus kuda : Kuda laut
Hirudo medicinalis : Lintah air tawar
Heteropoda venatoria : Laba-laba pemburu
Hippocampus kuda : Kuda laut
Hirudo medicinalis : Lintah air tawar
Hynobius : Salamander daratan asia
Lampropeltis bovlii : Ular belang
Lepisma : Kutu buku
Leptocorisa acuta : Walang sangit
Leucopsar rothschildi : Jalak
Limnea javanica : Siput air tawar
Loa loa : Cacing mata pada manusia
Loligo pealii : Cumi-cumi
Loxosceles reclusa : Laba-laba beracun
Lumbriscus terrestris : Cacing tanah di eropa
Lutjanus argentimaculatus : Ikan kakap merah
Mabouya multifasciata : Kadal
Marcopus cangaroo : kanguru australia
Meghacephalon maleo : Maleo sulawesi utara
Meleagris gallopavo : Ayam turki
Metridium marginatum : Mawar laut
Monomorium monomorium : Semut
Musca domestica : Lalat rumah
Nasalis larvatus : Bekantan kalimantan
Naya tripudont : Ular kobra
Octopus vulgaris : Gurita
Octopus bairdii : Gurita merah
Ophiothrix sp. : Bintang ular
Lampropeltis bovlii : Ular belang
Lepisma : Kutu buku
Leptocorisa acuta : Walang sangit
Leucopsar rothschildi : Jalak
Limnea javanica : Siput air tawar
Loa loa : Cacing mata pada manusia
Loligo pealii : Cumi-cumi
Loxosceles reclusa : Laba-laba beracun
Lumbriscus terrestris : Cacing tanah di eropa
Lutjanus argentimaculatus : Ikan kakap merah
Mabouya multifasciata : Kadal
Marcopus cangaroo : kanguru australia
Meghacephalon maleo : Maleo sulawesi utara
Meleagris gallopavo : Ayam turki
Metridium marginatum : Mawar laut
Monomorium monomorium : Semut
Musca domestica : Lalat rumah
Nasalis larvatus : Bekantan kalimantan
Naya tripudont : Ular kobra
Octopus vulgaris : Gurita
Octopus bairdii : Gurita merah
Ophiothrix sp. : Bintang ular
Orcinus orca : Paus orca
Oreochromis mossambicus : Ikan mujair
Ornithorhynchus anatinus : Platipus
Osphronemus gouramy : Gurami
Oxyuris vermicularis : Cacing kremi
Ornithorhynchus anatinus : Platipus
Osphronemus gouramy : Gurami
Oxyuris vermicularis : Cacing kremi
Paratelphusa maculata : Yuyu
Panulirus argus : Lobster/udang besar
Panthera tigris : Macan asia
Paradisiea apoda : Cendrawasih
Pepanus sp : Udang windu
Periplaneta americana : Kecoak
Physalia pelagica : Ubur-ubur api
Pinctada margaritifera : Tiram mutiara
Polypedates leucomystax : Katak pohon
Portunus sexdentatus : Kepiting
Panulirus argus : Lobster/udang besar
Panthera tigris : Macan asia
Paradisiea apoda : Cendrawasih
Pepanus sp : Udang windu
Periplaneta americana : Kecoak
Physalia pelagica : Ubur-ubur api
Pinctada margaritifera : Tiram mutiara
Polypedates leucomystax : Katak pohon
Portunus sexdentatus : Kepiting
Pycnonotus aurigaster : Ketilang
Python molurus : Ular sawah
Pteroptyx malacca : Kunang-kunang
Python molurus : Ular sawah
Pteroptyx malacca : Kunang-kunang
Pteropus sp : Kalong
Rana sp : Katak
Rhinocheros sondaicus : Badak ujung kulon
Rana sp : Katak
Rhinocheros sondaicus : Badak ujung kulon
Salamndra sulamandra : Salamander
Sepia oficinalis : ikan Sotong
Sphenodon punctatum : Tuatara
Sphenodon punctatum : Tuatara
Spyrna tudes : Hiu martil
Squalus achantias : Hiu berkepala
anjing
Streptopelia chinensis : Tekukur
Struthio camelus : Burung unta
Sus scrofa : Babi liar di Eropa
Streptopelia chinensis : Tekukur
Struthio camelus : Burung unta
Sus scrofa : Babi liar di Eropa
Sympalangus syndactylus
: Gibon/siamang
Thylogale bruijni : Kanguru irian
Thylogale bruijni : Kanguru irian
Tubifora musica : Karang suling
Taenia saginata : Cacing pita
Tubifex sp. : Cacing air tawar
Taenia saginata : Cacing pita
Tubifex sp. : Cacing air tawar
Varamus komodoensis
: Komodo
_______________________________________________________
terimakasih telah berkunjung...
semoga bermanfaat ^_^
Thursday, April 30, 2015
K-POP
SONG LYRICS (BTS - I Need U)
Fall
(Everything) Fall (Everything) Fall (Everything) heuteojine
Fall (Everything) Fall (Everything) Fall (Everything) tteoreojine
neo ttaeme
na ireoke manggajyeo geumanhallae ije neo an gajyeo
motageseo mwon gataseo jebal pinggye gateun geon samgajwo
niga nahante ireom an dwae niga han modeun mareun andae
jinsireul garigo nal jjijeo nal jjigeo na michyeo da sireo
jeonbu gajyeoga nan niga geunyang miwo
But you’re
my everything (You’re my) Everything (You’re my)
Everything (You’re my) jebal jom kkeojyeo huh
mianhae (I hate you) saranghae (I hate you) yongseohae
I need you
girl wae honja saranghago honjaseoman ibyeolhae
I need you girl wae dachil geol almyeonseo jakku niga pillyohae
I need you girl neon areumdawo I need you girl neomu chagawo
I need you girl (I need you girl) I need you girl (I need you girl)
It goes
round & round na wae jakku doraoji
I go down & down ijjeum doemyeon naega baboji
na museun jiseul haebwado eojjeol suga eopdago
bunmyeong nae simjang, nae maeum, nae gaseuminde wae mareul an deunnyago
tto honjanmalhane (tto honjanmalhane) tto honjanmalhane (tto honjanmalhane)
neon amu mal an hae a jebal naega jalhalge haneureun tto parake (haneureun tto
parake)
haneuri
paraeseo haetsari binnaseo nae nunmuri deo jal boina bwa
wae naneun neoinji wae hapil neoinji wae neoreul tteonal suga eomneunji
I need you
girl wae honja saranghago honjaseoman ibyeolhae
I need you girl wae dachil geol almyeonseo jakku niga pillyohae
I need you girl neon areumdawo I need you girl neomu chagawo
I need you girl (I need you girl) I need you girl (I need you girl)
Girl charari
charari heeojijago haejwo
Girl sarangi sarangi anieotdago haejwo oh
naegen geureol yonggiga eopseo naege majimak seonmureul jwo
deoneun doragal su eopdorok Oh
I need you
girl wae honja saranghago honjaseoman ibyeolhae
I need you girl wae dachil geol almyeonseo jakku niga pillyohae
I need you girl neon areumdawo I need you girl neomu chagawo
I need you girl (I need you girl) I need you girl (I need you girl)
Subscribe to:
Comments (Atom)













